Situs Web Kawasan Puspiptek

Cari berita
SAINS TEKNOLOGI

Hambat Pemanasan Global dengan Gas Buangan Kanguru

Melirik Bahan Bakar Nabati untuk Motor

Energi Surya Bisa Dikembangkan Secara Ekonomis

Teknologi Nano Gandakan Kekuatan Beton

Pembangkit Listrik Mikrohidro Solusi Daerah Pedesaan


Melihat Berita Sains Teknologi Sebelumnya

Memberikan komentar, saran atau kritik
situs web terkait
Konter Pengunjung ke:

Sejak 1/1/2008

Kamis, 8 Juni 2006

LIPI Kukuhkan Tiga Profesor Riset

Tiga orang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan orasi ilmiahnya mengawali pengukuhannya sebagai Profesor Riset di Gedung Widya Graha, Kompleks LIPI, Jakarta, Kamis (8/6). Ketiga orang tersebut adalah adalah Dr. Soefjan Tsauri, M.Sc., APU yang meneliti bidang kimia, Dr. Ir. Suparka, APU di bidang geologi struktur, dan Dr. Anung Kusnowo, M.Tech., APU di bidang fisika murni.

Peneliti yang mendapat jabatan Profesor Riset berarti telah mengkhususkan aktivitasnya hanya pada bidang penelitian keilmuan. Profesor Riset merupakan jabatan tertinggi di lembaga penelitian seperti LIPI yang diberikan oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset dengan kriteria tertentu.

"Pengukuhan merupakan pengakuan sekaligus penguatan atas prestasi tertingginya sebagai seorang peneliti," kata Kepala LIPI Prof. Drs. Umar A. Jenie, Apt., M.Sc., Ph.D. Menurutnya, sudah sepantasnya semua peneliti yang telah menyandang jabatan Peneliti Utama (dulu Ahli Peneliti Utama) melaksanakan pidato pengukuhannya sebagai pernyataan kepada publik akan keahliannya di bidang tertentu.

Saat ini, jumlah Profesor Riset di LIPI baru sekitar 3 hingga 4 persen. Sedangkan, jumlah staf peneliti di LIPI yang mempunyai jabatan Peneliti Utama baru sekitar 8 hingga 9 persen dari keseluruhan tenaga peneliti yang ada."Jumlah ini masih lebih kecil dari jumlah ideal minimal bagi suatu lembaga penelitian yaitu 10 persen," lanjut Umar.

"LIPI perlu memacu staf penelitinya untuk mencapai jenjang Profesor Riset sehingga syarat minimal tersebut terpenuhi. Namun, perlu diperhatikan tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas," tambahnya. "Seorang peneliti boleh salah tetapi tidak boleh bohong," kata Dr. Soefjan Tsauri dalam pidatonya berjudul "Ilmu Kimia, Etika Keilmuan, dan Penelitian". Menurutnya, seorang peneliti harus bebas dari tiga malalaku keilmuan (misconduct scientific) yaitu perakitan data, pemalsuan data, dan plagiarisme. Jika kapasitas penelitian yang lebih baik terus didorong, pada suatu saat nanti bukan tidak mungkin ada seorang penerima Nobel dari Indonesia.

Dr. Anung Kusworo, yang menekuni penelitian laser, sangat mendukung usaha Prof. Johanes Surya yang berani mencanangkan target tersebut. Untuk mendorong cita-cita tersebut, ia juga terlibat dalam pembinaan generasi muda sebagai juri lomba ilmiah remaja yang dilakukannya sejak 30 tahun lalu.

Tak luput, penelitian dalam bidang geologi merupakan salah satu kebutuhan rakyat Indonesia yang hidup di atas struktur geologi yang kompleks. Dr. Suparka, yang juga menjabat Rektor Institut Teknologi dan Sains Bandung saat ini, mengatakan perlunya penyebarluasan keilmuan geologi dengan memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sejak dini. Namun menurut Dr. Suparka, hal tersebut hanya akan terwujud jika pemerintah serius dan para peneliti mau membaginya kepada masyarakat. "Kalau kemampuan, saya yakin peneliti kita sudah bisa," ujarnya.

Diolah dari Kompas/Wah/WB