|
Situs Web Kawasan Puspiptek
SAINS TEKNOLOGI
|
Konter Pengunjung ke:
    
Sejak 1/1/2008
|
|
Selasa, 9 Mei 2006
Mencari Biodiesel di Pom Bensin
Jika Pertamina menyediakan biodiesel di SPBU, konsumen mana yang bisa menolak?
Fakta di lapangan kian merisaukan: produksi emas hitam alias minyak bumi di Indonesia dilaporkan melorot ke angka 1,06 juta barel per hari. Sementara konsumsi BBM menukik ke angka 1,125 juta barel per hari, dan akan terus membengkak seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan industri.
Bahwa perlu energi alternatif berbasis tumbuhan (biofuel) sebagai pengganti minyak bumi, sudah diwacanakan sejak dua dekade silam. Namun angin perubahan tak kunjung berembus. Buktinya, hingga kini sektor industri masih gandrung solar atau premium. Di pom-pom bensin pun, masih sulit menemukan biofuel. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengingatkan fakta meroketnya harga minyak dunia saat ini membuat biofuel tak dapat ditawar-tawar lagi.
''Setelah sempat menembus 75 dolar AS per barel, bukannya mustahil harga minyak dunia menukik ke 100 dolar AS per barel kalau pecah perang di Iran,'' kata Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, Dr Ir Unggul Priyanto, pekan lalu.
PPO untuk mesin diesel
Bagai berkejaran dengan konflik di Timur Tengah, Unggul berpendapat Indonesia sebetulnya dapat memangkas ketergantungan terhadap minyak bumi. Bahkan bisa menambang duit triliunan rupiah, andai substitusi solar oleh pure plant oil (PPO) disikapi secara serius dalam skala nasional. Mengapa PPO?
Sejak lama, wacana energi alternatif nabati didominasi oleh biodiesel. Biodiesel adalah minyak nabati yang direaksikan (diesterifikasi) dengan senyawa tambahan seperti metanol, NaOH, atau KOH, dan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Ingat B-5 atau B-10? Itu adalah campuran lima dan sepuluh persen biodiesel dengan solar.
Berbeda dengan biodiesel, PPO adalah minyak nabati murni. Ia dihasilkan dari tanaman melalui pengepresan atau ekstraksi tanpa proses kimia metanol, NaOH, atau KOH. Karena tak butuh senyawa kimia tambahan, harga PPO lebih murah. Jika satu liter biodiesel Rp 5.000, maka PPO cuma Rp 4.000. Solar harganya Rp 5.783 per liter.
PPO terutama dihasilkan dari kelapa sawit. Satu hektare kebun kelapa sawit tercatat mampu mengucurkan 5.950 liter PPO. Fakta bahwa Indonesia surga kelapa sawit dunia, membuat peluang produksi PPO secara massif amat besar. Teknologinya pun relatif sederhana. Tapi mengapa tak segera dilakukan?
Tak diragukan
Unggul mengakui tak mudah mengubah perilaku konsumen, dari kebiasaan memakai solar ke biofuel. Padahal, berdasarkan riset ilmiah, tak perlu ada keraguan soal kinerja PPO untuk mesin kendaraan.
Di negara-negara maju, terang Unggul, PPO malah sudah marak digunakan sebagai bahan bakar. Di Indonesia, BPPT telah mengujicobakan mobil diesel berbahan bakar PPO keliling Jawa sejauh 16 ribu kilometer.
Hasilnya cukup meyakinkan, malah PPO memiliki sejumlah keunggulan ketimbang solar. Debu yang disemburkan PPO tercatat lebih sedikit (0,64 gr/km), sementara solar (0.69 gr/km). PPO juga lebih irit (10.14 km/liter), solar (9.76 km/liter). Selain lebih hemat dan ramah lingkungan, tak kalah penting, harga PPO lebih murah.
Unggul mengakui, PPO tak langsung kompatibel dengan semua tipe mesin. Kendaraan yang akan menggunakan PPO masih perlu tambahan tangki bahan bakar dan pemanas, serta filter tambahan. Fungsinya adalah untuk menjaga minyak nabati agar tetap panas supaya kekentalannya sama dengan solar.
Namun, untuk daerah panas seperti Indonesia, campuran PPO hingga 15 persen (PPO 15) sebetulnya belum memerlukan penambahan alat atau modifikasi mesin lantaran viskositas atau kekentalannya masih cukup aman untuk mesin diesel.
''Karena itu tak perlu ragu untuk pindah ke PPO. Sebab, secara teknis memang tak ada masalah,'' tegas Unggul. Menurut Unggul, PPO di atas 15 persen membutuhkan pekerjaan tambahan, sehingga kalah praktis ketimbang biodiesel. Namun, PPO di atas 15 persen tetap efektif untuk mesin stationary seperti genset.
Bukan cuma pengendara kendaraan, PPO sebetulnya potensial dimanfaatkan kalangan industri. Harganya yang lebih murah ketimbang solar, jadi daya tarik yang besar.
Tergantung Pertamina
Mengapa PPO tak juga populer di Indonesia? Menurut Ungggul, alasan pertama adalah paradigma konsumen yang tak gampang diubah. Kedua, minimnya paparan dan aksi dari stakeholder terkait lantaran khawatir konversi besar-besaran ke PPO akan mengganggu bisnis yang sudah mapan di premium dan solar.
Maka, akhirnya, persoalan energi alternatif menjadi urusan besar yang menjadi wilayah badan-badan yang berkuasa. ''Pertamina memegang peranan penting di sini. Jika Pertamina memaksakan PPO atau biodiesel di pom-pom bensin siapa konsumen yang bisa menolak?'' kata Unggul.
Menurut dia, sektor transportasi adalah konsumen utama BBM. Maka kebijakan penggunaan PPO di sektor ini memiliki implikasi strategis dan luas. Selasa ini (9/5) di Jakarta dilangsungkan workshop dan penandatanganan kerja sama soal penggunaan biofuel yang melibatkan BPPT, Kementerian BUMN, termasuk Pertamina dan PLN.
Fakta Angka
Rp 3,83 triliun Nilai subsidi yang bisa dihemat jika menggunakan bahan bakar bersubstitusi pure plant oil (PPO) 15 persen.
Memangkas Subsidi
Memakai PPO juga berarti menghemat uang negara. Menurut Unggul, jumlah solar yang harus disubsidi pada 2006 adalah 14,498 juta kilo liter. Jika sepuluh persennya saja disubstitusi PPO (PPO-10), maka subsidi yang dipangkas sekitar Rp 2,56 trilun.
Ini dua kali lebih besar ketimbang duit yang bisa dihemat dari substitusi sepuluh persen solar dengan biodiesel (B-10), yaitu Rp 1,12 triliun. Makin besar kadar PPO yang dicampur, makin besar subsidi negara yang dapat dihemat.
Jika dengan PPO-10 dapat dihemat Rp 2,56 triliun, maka 15 persen PPO (PPO-15) dapat menghemat Rp 3,83 triliun per tahun. Bandingkan dengan 15 persen biodiesel (B-15) yang cuma menghemat Rp 1,66 triliun.
Bagaimana jika PPO mensubstitusi minyak tanah? Minyak tanah, kata Untung, adalah jenis BBM yang paling besar disubsidi negara. Pada 2006 minyak tanah yang harus disubsidi 10 juta kiloliter. Substitusi 10 persen minyak tanah dengan PPO (PPO-10) dapat menghemat Rp 1,66 triliun. Biodiesel cuma Rp 0,66 triliun.
PPO juga dapat untuk mensubstitusi solar PLN. Dengan fakta 1,6 juta kiloliter solar PLN yang harus disubsidi negara, substitusi 15 persennya dengan PPO dapat memangkas subsidi sebesar Rp 260 miliar per tahun, Biodiesel cuma Rp 19,1 miliar.
Secara keseluruhan, terang Unggul, dibutuhkan 3,6 juta kilo liter PPO untuk mensubsitusi BBM dengan PPO. Produksi kelapa sawit di Indonesia sendiri adalah 14,2 juta ton, 10 juta ton di antaranya untuk ekspor. Maka masih ada selisih 4 juta ton. Ini angka yang pas untuk substitusi PPO. Mengapa tak segera dilakukan?
(Sumber Republika OL/imy/Webmaster )
|
|