|
Situs Web Kawasan Puspiptek
SAINS TEKNOLOGI
|
Konter Pengunjung ke:
    
Sejak 1/1/2008
|
|
Kamis, 15 Juni 2006
Presiden Diharap Segera Realisasikan Pengembangan Bioetanol
JAKARTA--MIOL: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berharap Presiden dapat merealisasikan pengembangan bioetanol sebagai alternatif premium. Pasalnya upaya ini dapat menghemat impor premium hingga 2,25 juta kilo liter senilai US$1,35 miliar dan impor methyl tertiary buthyl ether (MTBE) senilai US$23,14 juta. Selain itu, pengembangan bioetanol dalam aktivitas penyediaan bahan baku dan kegiatan produksinya dapat menyerap 3,6 juta tenaga kerja kebun dan 2.280 tenaga kerja terampil terdidik setingkat SMK hingga sarjana.
Hal itu disampaikan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman kepada wartawan di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (14/6). "Kuncinya adalah realisasi instruksi presiden dan pernyataan dari pertamina mengenai keberadaan produk baru bernama biopremium". Kusmayanto menyatakan apabila pada 2010 bioetanol dapat mensubstitusi 10% konsumsi bensin, maka akan dibutuhkan bioetanol sebanyak 2,25 juta kilo liter, dengan asumsi konsumsi bensin pada 2010 adalah 22,5 juta kl. Untuk menghasilkan bioetanol sebanyak itu, menurut dia, perlu dibangun 114 unit pabrik bioetanol dengan kapasitas produksi masing-masing 60 kl per hari atau 38 unit pabrik dengan kapasitas 180 kl per hari.
Sedangkan dengan patokan konsumsi premium sebanyak 16,5 juta kl pada 2005 lalu, maka porsi bioetanol sebesar 10%, yaitu 1,65 juta kl membutuhkan sekitar 600 ribu hektar lahan singkong maupun tebu sebagai bahan baku bioetanol. "Kepala Badan Pertanahan Nasional maupun Deptan menyatakan jumlah lahan sebesar itu bisa diraih karena ada sekitar 20 juta hektare lahan yang bisa digarap," kata dia. Lahan singkong sebesar 600 ribu hektare dapat menghasilkan sekitar 15 juta ton ubi kayu dengan biaya produksi budidaya sebesar Rp2,1 triliun.
Bioetanol adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dibuat dengan bahan baku bahan bergula seperti tebu dan nira aren serta bahan berpati, misalnya jagung dan ubi-ubian.
Ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol menjadi prioritas utama karena dapat dibudidayakan di lahan kritis dan teknologi konversinya telah dikuasai, khususnya oleh BPPT. Porsi bioetanol sebesar 10% dan bensin menghasilkan gasohol E-10, sementara dengan komposisi bioetanol 25% disebut gasohol E-20.
Kusmayanto menjelaskan hasil pengujian kinerja mesin mobil bensin menggunakan gasohol menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik dari premium dan setara pertamax.
"Dengan kualitas pertamax, gasohol akan dijual dengan harga setara premium," ujarnya. (Msc/Wis/OL-06)
Sumber Kompas/WB
|
|