TAFASIR

No. 77, 10 Agustus 2008 M /
7 Sya’ban 1429 H
(Topik bahasan minggu ini)
SYAFA’AT DAN SAPAAN SALAM
Telusur
(diakses: 22441 x, sejak 1 Okt. 2007)



Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang




[4:85]. Barang siapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.



[4:86]. Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu


QS An-Nisaa 85 - 86


ang dimaksud syafa’at disini ialah: menggabungkan diri dengan orang lain dan dan memberikan pertolongan kepadanya dan menjadi pasangan baginya atau menjadi penolong dalam menjalankan kebaikan atau kejahatan, dan dengan demikian ia membantu memperkuatnya dan bersama-sama dengannya dalam hal yang menguntungkan atau merugikannya. Para mufassir lainnya mendefinisikan syafa’at sebagai: orang yang menjalankan kelakuan yang baik atau kelakuan yang buruk yang selanjutnya menjadikan “pasangannya” dengan cara menirunya dan mengikutinya. Dengan demikian maka syafa’at dari Nabi bukan hanya efektif pada hari akhirat, tapi jauh sebelumnya di dunia, yaitu jika kita ingin mendapatkan syafa’at (dalam arti pertolongan dari Nabi, maka kita harus jadi syaf’un ( pasangan) yang menirunya mengikuti sunnahnya. Pemahaman ini terbit dari arti syafa’a-yasyfi’u-syaf’an wa syafaa’atan, yang artinya memberinya pertolongan sehingga yang diberinya pertolongan mengikutinya, menirunya dan menjadikannya pasangan mitra yang sejalan.

Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan syafa’at ia’lah pertolongan atau dukungan, sehingga “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, maka ia akan ia akan memperoleh bagian dari- nya atau ikut pada dosanya. Dalam suatu hadits shahih disabdakan: “Berikanlah syafa’at, niscaya kamu akan memperoleh ganjaran”. Jadi secara umum syafa’at adalah semua bantuan atau dukungan pada orang lain baik berupa pertolongan, bimbingan, keteladanan dlsb Namun secara khusus, bantuan atau pertolongan itu harus memberikan pengaruh bagi yang ditolong untuk meniru, mengikuti jejak,mengikuti sunnah dari yang memberikan syafa’at . Ini yang membedakan antara syafa’at dan “pertolongan atau kerjasama yang lain” misalnya ta’aawun, gauts (berkaitan dengan istigaatsah ) dlsb.

Dalam catatan perusahaan di Eropa atau Amerika Serikat, terutama perusahaan yang menjual produk teknologi tinggi misalnya Chance-Pilkington, Hewlett-Packard dlsb, hampir selalu ada dua nama yang saling berdampingan, biasanya yang satu itu tokoh penemu yang menelorkan inovasi dan terus mengembangkan teknologinya, yang lain adalah tokoh dengan sentuhan dan visi bisnis yang tajam dan punya beribu kiat untuk menjadikan semua inovasi dan penemuan dari rekannya semuanya menjadi keuntungan yang berlipat-ganda. Hampir selalu yang terjadi adalah, selain keduanya saling bermitra, bekerja sama satu sama lain, juga ada tokoh yang berpengaruh sehingga menularkan kelebihannya pada rekannya yang lain. Jadi model pemberi syafa’at dan penerima syafa’at juga berlaku pada kehidupan yang paling duniawi sekalipun yaitu pada korporat yang memproduksi teknologi tinggi dan mengembangkannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada terjemah ayat [4:96] digunakan kosa kata “penghormatan”, tetapi kalau melihat lafadz aslinya“: ”wa idzaa huyyiitum bi tahiyyatin fa hayuu biahsan minhaa au ruduuha”. Ism mashdar yang dipakai ialah tahiyyatun yang artinya salam atau ajakan, bahkan sampai sekarang dalam bahasa Arab umum (‘ammiyah) kata tahiyyah digunakan untuk padanan kata salam dalam bahasa Indonesia. Jadi yang lebih tepat ialah kata sapaan.

Dalam agama Islam terdapat sapaan universal yang berlaku baik untuk raja maupun untuk rakyat jelata, perempuan atau laki-laki dari status sosial dan latar belakang etnis yang berbeda, yaitu ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Sapaan ini juga berlaku untuk waktu apapun baik pagi, siang atau malam, dan dalam kondisi apapun bagi yang disapa baik dalam keadaan pesta ataupun dalam keadaan kematian. Ini karena sapaan ini sebenarnya adalah suatu doa, yaitu mendu’akan agar yang disapa semoga diberi Allah swt keselamatan, kasih sayang-Nya dan berkah-Nya. Karena harus ringkas, maka kata-kata “semoga” dihilangkan dalam ucapan ini. Ucapan salam ini bagaikan password (kalimat lolos) apalagi bila kita berada di tempat dimana Muslim merupakan minoritas. Dengan kalimat ini maka persaudaraan dalam Islam segera diingatkan.

Di India, misalnya seorang pelancong yang mengucapkan salam akan segera disambut dengan tangan terbuka oleh tuan rumah yang segera menyambutnya, mempersilakan menginap dan menjamunya sebagaimana menyambut saudaranya yang seiman. Sungguh Allah Rabbul ‘Alamien Maha Penyayang akan hamba-hambanya sehingga Dia sampai-sampai menyediakan sapaan yang demikian berlaku umum dan sederhana pada waktu yang sama mendidik hambanya untuk saling mendu’akan kepada keselamatan, sehingga diharapkan tak akan ada pertikaian apalagi pertumpahan darah antara sesama saudara kaum Muslimin, Dalam ayat ini difirmankan bahwa yang lebih dahulu disapa harus membalas sapaan (atau ucapan salam) dengan bentuk yang lebih baik. Misalnya sapaan “Assalamu’laikum” sebaiknya dibalas dengan ucapan yang lebih panjang dari “Assalamu’laikum” yaitu “Assalamu’laikum warahmatullah”´ atau lebih baik lagi bila balas menyapa dengan Alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh. Jika tidak minimal sama panjangnya, Artinya bahwa jika penyapa mendu’akan agar yang disapa itu selamat, maka dia mendu’akan agar penyapa selain selamat juga mendapat rahmat Allah. Dan lebih baik lagi bila selain selamat, rahmat Allah juga mendapat berkah Allah. Jika mengucapkan salam itu hukumnya sunah maka membalas ucapan salam itu hukumnya wajib bagi yang disapanya dengan salam.

Jadi ada suatu nilai tambah atau pertambahan nilai. Prinsip ini bukan saja hanya berlaku untuk suatu penyapaan, tapi juga berlaku bagi suatu pemberian hadiah yang dilakukan seorang Muslim kepada ikhwannya sesama Muslim. Pemberian yang pernah disampaikan kalau ada dan tersedia, sebaiknya dibalas pada waktu itu juga atau di waktu yang lain, dengan jumlah atau kualitas yang melebihi pemberian yang sebelumnya. Dan ketentuan ini berlaku bukan hanya untuk penyapaan salam, atau pemberian atau hadiah, tapi juga berlaku untuk setiap perbuatan baik. Perbuatan baik (ihsan) yang diberikan kepada kita sebaiknya dibalas dengan perbuatan yang baik, syukur-syukur kalau melebihi perbuatannya. Tapi perbuatan buruk lebih baik jika dimaafkan, walaupun menurut aturan Islam ada aturan kisas (pembalasan), tapi Allah menyukai hambanya yang memaafkan yang berbuat jahat padanya.

Wallahu a'lam bishshawab. (SFR)



Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS Al-Baqarah 2:269)
TAFASIR: Lembar Dakwah Masjid Bahrul 'Ulum PUSPIPTEK
Hasil Diskusi mengenai tafsir-tafsir Al-Qur-an
Kami mengundang peran-serta Ikwan/Ikhwah untuk hadir setiap hari Ahad
di Masjid Bahrul 'Ulum PUSPIPTEK jam 5.30 s/d 6.30

Dokumentasi menurut indeks:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

Diskusi & Dialog on-line:

-

Sumbang saran & pemikiran
:



nama :
e-mail: (Tidak akan dipublikasikan)